Jl. Ampera Raya No. 7 Jakarta 12560

Uber Arsip
Logo ANRI

ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender

ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender

28

Jan 21

ANRI, LIPI dan UNESCO Gelar Workshop Identifikasi Arsip yang Berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender

Jakarta (28/01/2021) - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyelenggarakan Workshop Identifikasi Arsip yang berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender secara virtual, Kamis (28/1).  Sekitar 50 orang yang merupakan perwakilan dari ANRI, LIPI, Komite Memory of the World (MoW) Indonesia, UNESCO Office Jakarta, serta para Sejarawan mengikuti workshop tersebut.

Workshop ini dilaksanakan dalam rangka pembahasan hasil identifikasi arsip terkait kesetaraan gender (gender equality marker) yang akan diajukan/dinominasikan sebagai UNESCO MoW. Selain itu, workshop digelar sebagai salah satu upaya untuk melestarikan dan meningkatkan akses warisan dokumenter dunia melalui Program MoW UNESCO.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Konservasi Arsip, Multi Siswati dalam sambutannya menyampaikan bahwa ANRI mendukung penuh pemanfaatan arsip yang tersimpan di ANRI. “Melalui workshop ini, kami harap bisa memberikan gambaran dan cakupan arsip terkait kesetaraan gender yang tersimpan di ANRI dan akhirnya bisa menjadi bahan untuk finalisasi output berupa daftar arsip yang berisi kumpulan arsip tentang peristiwa dan tokoh yang disatukan dalam tema tertentu,” jelas Multi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komite MoW Indonesia, Mego Pinandito menyampaikan bahwa isu kesetaraan gender telah lama menjadi suatu permasalahan, sehingga hal ini menjadi salah satu prioritas global UNESCO. Maka itu, UNESCO mengajak berbagai pihak pengelola warisan dokumenter untuk bekerja sama mengidentifikasi warisan dokumenter yang memiliki keterkaitan dengan isu gender sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Adapun materi terkait Identifikasi Arsip yang berhubungan dengan Penanda Kesetaraan Gender disampaikan oleh beberapa narasumber, di antaranya Advisor for Communication and Information UNESCO Jakarta, Dr. Lim Ming Kuok, Arsiparis Madya ANRI, Nadia Fauziah, dan Peneliti Bidang Perkembangan Politik Lokal LIPI, Kurniawati Hastuti Dewi.

Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengayaan kajian gender di Indonesia. Lebih lanjut, hasil dari kegiatan ini juga diharapkan akan menghasilkan suatu rekomendasi terhadap kategori arsip gender yang mempunyai potensi untuk diusulkan sebagai ingatan dunia. 

( ENU )