Jl. Ampera Raya No. 7 Jakarta 12560

Uber Arsip
Logo ANRI

Naskah Hikayat Aceh Diusulkan Menjadi Memori Dunia

Naskah Hikayat Aceh Diusulkan Menjadi Memori Dunia Naskah Hikayat Aceh Diusulkan Menjadi Memori Dunia Naskah Hikayat Aceh Diusulkan Menjadi Memori Dunia

14

Oct 21

Naskah Hikayat Aceh Diusulkan Menjadi Memori Dunia

Jakarta - 13/10/21, Naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka yang ditulis pada abad ke 17 M. Karya sastra kuno yang diajukan menjadi nominasi Memory of the World (MOW) ini berkisah tentang perjalanan Sultan Iskandar Muda sebagai sultan paling kuat dan besar dalam Kesultanan Aceh. 

 

Peneliti Bidang Agama dan Tradisi Keagamaan Melayu-Aceh Kementerian Agama, Fakriati menyampaikan bahwa naskah Hikayat Aceh ini berkisah tentang masa Kejayaan Sultan Iskandar Muda. Selain itu, juga berisi mengenai tradisi, toleransi yang dibangun oleh tokoh utama Sultan Iskandar Muda. 

 

Dalam naskah Hikayat Aceh, Fakriati mencoba merangkai isi naskah bahwa di dalamnya terdapat toleransi yang dibangun dari beberapa unsur, di antaranya sultan/pejabat negara, ulama, rakyat, adat dan agama. 

 

"Ada keterikatan antar unsur ini secara utuh. Saling mendukung sehingga membentuk nilai-nilai toleransi," ungkapnya dalam Webinar Hikayat Aceh Road To Memory of the World, yang diselenggarakan secara daring pada Rabu, 13 Oktober 2021. 

 

Dikatakan, Hikayat Aceh menanamkan pola hidup dan budaya multikultural dan berinteraksi antara satu dengan lainnya antara Sultan dengan rakyat dan antara pendatang dengan pribumi. 

 

Peneliti Filologi Melayu-Aceh, Hermansyah mengatakan naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka karena tidak ada banyak salinan. Saat ini hanya terdapat tiga naskah Hikayat Aceh, dua di antaranya terdapat di Universitas Leiden Belanda dan satu di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. 

 

"Naskah Hikayat Aceh ini menggunakan aksara Jawi berbahasa Melayu. Namun naskah yang ada ini halaman awal dan akhir belum ditemukan," terangnya. 

 

Dijelaskan, Hikayat Aceh menceritakan kisah para Sultan dan Kesultanan Aceh sebelum dan di masa Sultan Iskandar Muda pada 1590-1636 M. Naskah kuno ini pun memenuhi nilai-nilai historis baik melalui sumber primer sejarah, peristiwa dan ketokohan. 

 

"Sehingga perlu adanya reproduksi teks Hikayat Aceh dalam bentuk modern yang menjadi media edukasi dan sosialisasi naskah Hikayat Aceh," tuturnya. 

 

Sementara itu Pakar Pendidikan dan Sejarah, Wardiman Djojonegoro menceritakan bahwa pada tahun 2017, Perpusnas RI telah mengusulkan Hikayat Aceh untuk menjadi memori dunia tahun 2018. Namun, pada tahun tersebut pendaftaran MOW oleh UNESCO ditunda. Meski begitu proses penyelesaian naskah nominasi tetap dilanjutkan. 

 

"Pada tahun ini pendaftaran kembali dibuka, dan Hikayat Aceh akan diajukan menjadi nominasi MOW. Karena selain langka, naskah ini agak berbeda dari naskah melayu lainnya. Tidak menceritakan tentang raja tetapi bercerita tentang keagungan raja," ungkapnya. 

 

Menurutnya, pengajuan naskah Hikayat Aceh untuk MOW telah memenuhi kriteria MOW UNESCO dan mempunyai potensi untuk diterima sebagai warisan dunia. "Semoga naskah nominasi dapat disusun bersama dan segera diselesaikan untuk memenuhi kriteria dari UNESCO," harapnya. 

 

Dukungan terhadap pengajuan Naskah Hikayat Aceh sebagai nominasi MOW juga ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Edi Yandra mengatakan, Pemerintah Aceh telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai MOW 2019 pada Oktober 2018 lalu. 

 

"FGD ini diperlukan untuk memperkaya usulan penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MOW harus disertai kajian akademik," terangnya. 

 

Edi berharap, Hikayat Aceh ditetapkan sebagai memori dunia. Jika sudah ditetapkan, Pemerintah Aceh akan mencetak dan memperbanyak buku Hikayat Aceh, menjadikannya sebagai koleksi literasi di setiap perpustakaan di seluruh Aceh bahkan seluruh Indonesia. Pihaknya berjanji melestarikan membudayakan seni Hikayat Aceh dalam kegiatan tingkat daerah hingga internasional. 

 

"Kami harap naskah Hikayat Aceh ini menjadi bacaan untuk semua kalangan, terutama menambah pengetahuan bagi generasi muda," ungkapnya 

 

Acara ini merupakan rangkaian kegiatan MOWEEK sebagai bentuk sinergitas antara Perpusnas RI dengan ANRI. Selain itu, Perpusnas bersama ANRI melakukan integrasi web portal dengan meluncurkan Web Portal Memori Kepresidenan RI. 

 

Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando mengatakan, dengan dipilihnya Kepala ANRI sebagai Ketua Komite Nasional MOW menjadi sebuah langkah besar yang dilakukan untuk memulai kerja sama. 

 

"Ini sebuah misi yang akan kita emban ke depan, sehingga misi peran kedua institusi makin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ungkapnya. 

 

Sementara itu Ketua Komite Nasional MOW Indonesia, Imam Gunarto menyampaikan harapannya terhadap usulan Hikayah Aceh menjadi MOW. "Sebagai Ketua Komite Nasional MOW Indonesia, saya sangat berharap upaya kita dalam mengajukan naskah ini untuk memperoleh international register MOW UNESCO dapat berhasil dengan baik, dan kemudian kita lakukan kapitalisasi untuk kepentingan nasional maupun internasional di kemudian hari", terang Imam Gunarto. 

( MD/IS )